Catatan Ringan

Buku “Kartu Anak Nakal”

Buku novel Korea ini berjudul asli, Nappeun Orini Pyo (The Bad Kids Stickers). Ditulis oleh Hwang Sun Mi dan diterjemahkan oleh Siti Hasanah, diterbitkan oleh DAR! Mizan. Buku ini disertai gambar-gambar ilustrasi.

Ini adalah buku favorit pilihan pembaca KKPK.

Buku ini bercerita tentang berbagai peristiwa dan perasaan yang mengiringi seorang anak SD kelas 3, bernama Lee Gun Woo, sejak hari pertama sekolah. Terutama tentang aturan yang dibuat oleh ibu guru wali kelasnya. Gurunya menetapkan sebuah aturan yang dirasakan tidak adil oleh Gun Woo. Aturan tentang kartu anak nakal dirasakan Gun Woo seperti kartu kuning. Dan di hari pertama sekolah, ia sudah mendapatkan masalah sehingga ia mendapat kartu anak nakal. Padahal ia tidak melakukan kesalahan seperti yang dipikirkan bu gurunya. Hingga berbagai peristiwa yang dialami di sekolah membuat Gun Woo terkenal dengan pemilik kartu anak terbanyak. Padahal ia merasa tidak seharusnya kartu itu diperolehnya. Kejadiannya banyak disebabkan oleh teman-temannya. Semakin banyak kartu, seakan-akan semakin menegaskan label anak nakal pada Gun Woo.

Gun Woo bukan seorang anak yang proaktif menyatakan pembelaan diri ataupun ketidaksetujuannya pada ibu guru. Dan ia menuangkan kekesalannya terhadap ibu guru dalam gambar dan tulisan di buku sekolahnya. Bahkan ia membuat catatan, “guru jahat”. Ia merasa ibu guru membencinya. Bila gurunya tidak adil, salah dalam berperilaku atau mengambil keputusan, Gun Woo akan menuliskannya di catatan “guru jahat”.

Dalam buku ini, digambarkan bagaimana perasaan Gun Woo yang berlabel anak nakal. Pada dasarnya, ia tidak menyukai label itu. Dan ia berusaha menunjukkan diri kalau ia bukanlah anak nakal. Terkadang upayanya berhasil, namun seringkali malah menimbulkan masalah baginya.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan apik. Dan mudah untuk dipahami bahkan untuk dibaca anak-anak sekalipun. Sejatinya, buku ini memang untuk anak-anak. Bahasanya yang sederhana dan mengalir ringan, layak menjadi bacaan anak di kala senggang. Tidak terlalu tebal, sehingga dapat segera dituntaskan.

Hikmah bagi anak-anak yang membaca buku ini, diantaranya agar berani membela diri jikalau ada hal yang tidak sesuai. Selain itu, pantang menyerah untuk menjadi lebih baik.

Kemenangan terjadi bila mampu mengalahkan pikiran negatif dan tetap fokus mencapai tujuan.

Serta, yakin bahwa kebaikan akan terjadi seiring usaha kita menjadi lebih baik.

Sedangkan bagi orangtua atau pun orang dewasa yang membaca buku ini ada pelajaran yang bisa diambil. Diantaranya, berhati-hati dalam memberikan label pada anak. Label yang diberikan dapat mempengaruhi citra dirinya dalam menampilkan diri di lingkungan. Pada dasarnya, tidak ada anak yang ingin menjadi nakal. Dan lihatlah secara positif, mereka pun berupaya menjadi baik, seperti yang diharapkan lingkungan. Hanya saja, mungkin akan berhasil dan mungkin tidak. Menghargai usaha yang diberikan dapat memotivasinya terus menjadi lebih baik.

Bijak melihat setiap persoalan yang dihadapi anak dari berbagai sudut pandang. Dan terpenting, libatkanlah anak dalam membuat keputusan, termasuk konsekuensi ataupun hukuman yang mungkin harus mereka peroleh. Karena kita sebagai orangtua atau guru atau orang dewasa yang lebih besar, belum tentu benar dalam memahami perilaku anak.

So, Selamat membersamai anak tersayang. Salam sayang untuk yang tersayang.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *