Kemping: sarana mendekatkan keluarga

Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh

Apakabar, mama? Ahad pagi yang cerah ya. Alhamdulillah.

Akhir pekan ini acaranya apa, mam? Mau di rumah atau berpelesir, semoga senantiasa membersamai anak-anak ya. Akhir pekan ini, keluarga kami menghabiskan waktu sebagian besar di rumah. Tapi tentunya tidak mengurangi kebersamaan bersama anak-anak.

Kemarin siang, teteh M menanyakan kapan kita kemping lagi. Saya agak kaget, ternyata dia merindukan suasana kemping keluarga. Bulan ini kami tidak ada rencana kemping kemana-mana. Belum menemukan tempat yang cocok buat kami.

Kegiatan kemping keluarga baru 4 kali kami lakukan. Namun terasa mendalam, khususnya buat saya. Hehehe…

Mulai dari bawaan kemping segambreng, sekarang mulai berkurang sedikit demi sedikit. Kami mencoba melakukan efisiensi bawaan dan semakin kreatif memberdayakan yang ada.

Kemping dengan personil anak-anak memerlukan persiapan dan cara yang ekstra dibanding kemping umumnya. Di kemping perdana, saya dan ayah anak-anak sebisa mungkin membawa segala barang yang membuat anak-anak nyaman di alam bebas. Ternyata oh ternyata, mereka lebih mampu beradaptasi dengan cepat. Beberapa hal akhirnya kami hilangkan dari daftar bawaan. Anak-anak pandai mencari alternatif bahkan cukup mampu bertoleransi dengan keadaan ala kadarnya saat kemping. See… Children are fast learner. Jadi, kalau mau ajak anak kemping, pertama adalah niat dan berpikiran positif.

Kemping perdana kami saat Baby Fatih masih berusia 6 bulan. Neneknya sudah wanti-wanti dan was was, dan saya berusaha keras menanamkan husnudzon pada diri sendiri. Alhamdulillah, ayahpun mendukung. Ini menjadi kekuatan saya membawa baby Fatih kemping.

Kakak Najmi, dia yang lebih saya khawatirkan. Sungguh salah satu alasan kemping adalah kami ingin menjauhkan kakak Najmi dari gawai. Alhamdulillah, ternyata bakatnya yang supel membuat ia begitu mudah mendapat teman baru. Tidak sampai setengah hari, ia sudah memiliki teman baru dan bersama-sama menjelajah area kemping.

Teteh Mayla, putri kami yang pemalu. Ia menjadi ekor kakak. Meski tidak seerat sebelumnya karena ia memilih menempel pada ayah ibunya. Hehehe…

Dan teteh Nadine, balita ini pun menikmati suasana kemping. Hal yang jarang bisa terjadi, ayah dan teteh Nadine bisa begitu lekat. Tak lepas dari ayahnya. Dan tentu saja, ayahnya menikmati saat seperti ini.


Pembagian tugas

Saat semua aktivitas terfokus hanya pada kami berenam, maka pembagian tugas sangat diperlukan. Kami hanya meneruskan kebiasaan di rumah. Dengan demikian, diharapkan anak-anak tidak canggung. Dan mereka merasa nyaman dengan tugasnya itu. Hanya beberapa hal yang baru yang dilakukan anak-anak.

Kakak Najmi masih menjadi sudin kebersihan. Teteh Mayla bertugas menangani masalah konsumsi. Teteh Nadine menjadi asistennya. Kini, nadine sudah lihai menggoreng telur dadar kesukaannya. Ia sudah tidak canggung menggunakan penggorengan dan sutil.

Lalu, apakah semuanya berjalan lancar? Sesuai rencana? Oh, tentu tidak selalu. Banyak kejutan dong! Mau tahu?

Kompor portable yang kami bawa pernah rusak. Mungkin karena teteh Nadine terlalu bersemangat memutar knopnya. Hehehe… Alhamdulillah, ada teman ayah yang berbaik hati meminjamkan kompornya, kebetulan ia membawa 2 buah.

Lalu, kami pernah mendapati badai hujan angin besar saat malam tiba. Tenda kami basah kuyup. Alhamdulillah kami masih bisa tertidur, sementara yang lain harus dievakuasi.

Pernah juga, gas kompor habis. Hahaha… Alhamdulillah kakak Najmi dan teteh Mayla berhasil menemukan penjual gas. Wew…. Harganya pun sama dengan di kota.

Apalagi ya? Nasi liwet yang gagal. Ampuunn… Ini karena saya yang tidak ahli membuatnya. Belum lagi hal-hal kecil yang membuat kami semakin mengenal satu sama lain.

Sebagai orangtua, saya dan suami memang dituntut ekstra sabar, terus berpikiran positif, dan keep calm apapun yang terjadi.

Belajar fokus pada solusi dan tidak terbawa pada emosi.

Dan ini tidak semudah menuliskannya, saudara! Butuh kekuatan besar. Seringkali kami diuji saat kondisi kami sedang lelah. Anyway, tak ada keindahan tanpa perjuangan. Termasuk keindahan hati saat berhasil melalui badai amarah. Berpelukan dan semakin sayang.

Baiklah, saya akan ceritakan lagi tentang kegiatan kemping kami. Tapi tidak sekarang ya. Sekarang kita nikmati dulu akhir pekan ini. Selamat membersamai anak-anak, salam sayang 💖

Komentar

  1. […] Segitu cerita saya, mama… Sampai jumpa di kisah lainnya. Lihat juga kisah kemping kami disini. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *