[Resahku] Adab

Assalamu’alaikum…

Apakabar, bunda semua? Semoga dalam keadaan sehat wal’afiat dan selalu dalam keadaan syukur pada Ilahi. Aamiin.

Sudah beberapa hari ini, cuaca di kota kami panas berangin. Bagaimana di tempat bunda? Semoga panasnya hari tetap mendinginkan hati. Hati yang tetap istiqomah dengan berbagai cercaan dan singgungan.

Nah, bicara tentang cercaan, saya melihat ada fenomena yang rasanya tak patut dilakukan oleh orang yang berilmu. Bunda, pernahkah bunda mendapati situasi dimana ada orang yang mengumpat dan ditertawakan oleh orang lain? Atau ada yang meledek orang lain dengan kata-kata yang dianggap lucu kemudian di-amin-kan orang lain? Tulisan ini merupakan introspeksi diri dan kegelisahan pribadi. Apakah bunda merasakan hal yang sama?

Saya miris sekali melihat keadaan baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Dimana orang-orang begitu mudah melemparkan umpatan, celaan dan labelling yang bersifat negatif, tidak layak ataupun tak pantas kepada orang lain. Bahkan disepakati oleh yang lainnya. Dimanakah adab sebagai manusia yang bermartabat? Tidakkah kita memikirkan adab dalam pergaulan? Tidakkah terpikirkan perasaan orang yang dihina?

Beberapa kali saya menemukan mobil yang parkir di tengah jalan hanya untuk membeli jajanan di pinggir trotoar. Mobil menghalangi kendaraan lain yang akan melintas. Klakson bersahutan, belum lagi umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut pengendara lain.

Anak-anak muda pun tampaknya mulai bergeser tingkat kesopanannya. Begitu mudah menghina ibu yang tua, atau membuat lelucon bagi orang yang lebih tua.

Anak yang lebih kecil dengan cekatan melontarkan kata umpatan ketika dinasihati orangtuanya. Belum lagi diiringi perangai yang membuat orangtuanya mengelus dada. Serasa seribu kata manis dan bijak ajakan orangtuanya, tak bisa mendamaikan hatinya.

Saya tak sanggup memendam resah ini sendiri, bun. Hanya deraian airmata takkan mampu menggantikan luka dan tingkah laku menjadi baik. Sesungguhnya kita berlindung kepada Allah ta’ala akan lisan dan perangai yang buruk.

Adab. Dimana adab itu berada? Adab dapat diartikan juga nilai kesopanan, sopan santun dalam bertingkah laku. Dalam Islam adab berkaitan dengan melakukan perintah Alloh dan Rasul Nya dalam lisan dan perbuatan. Adab juga dimaknai sebagai akhlakul karimah.

Pepatah mengatakan, adab itu mendahului ilmu. Dan hadis Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam menerangkan, tidaklah aku diutus ke muka bumi selain untuk memperbaiki akhlak.

Apalah artinya ilmu yang tinggi tanpa adab. Menjadi ilmuwan tapi tak mampu mengamalkan ilmunya untuk kebaikan umat. Maka inilah yang terjadi belakangan. Ketika banyak orang berilmu yang berlaku maksiat, melakukan berbagai cara demi memenuhi keinginan pribadi semata tanpa memikirkan hak orang lain.

Dalam islam, kita mengenal adab kepada Allah ta’ala dan Rasulullah, Adab kepada sesama manusia, dan adab kepada alam sekitar.

Adab kepada Alloh Ta’ala dan Rasulullah termasuk didalamnya adalah tidak mengolok-olok cara beribadah dan Kitabullah Al Qur’an. Dan tidak mengecam sunnah Rosulullah. Sesungguhnya manusia dengan segala keterbatasan dan kelebihannya diperintah Alloh Ta’ala menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangannya. Kini banyak umat muslim yang begitu mudahnya mempermainkan tata cara beribadah. Lihat saja, beberapa tayangan video yang viral ketika anak-anak sekolah mempermainkan gerakan sholat. Astagfirullah.

Selanjutnya, adab kepada sesama manusia. Sesama muslim yang satu dengan yang lainnya itu bersaudara. Janganlah kamu memakan bangkai saudaramu sendiri–hadis ini sarat makna agar kita tidak menjelekkan saudara sendiri dan menutupi aib saudaranya. Belum lagi, amalan untuk yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Menghormati dengan lisan yang baik, ucapan dan perbuatan yang menunjukkan penghargaan dan hormat terhadap mereka yang lebih tua. Sedangkan yang tua melimpahkan kasih sayang dalam menasehati yang lebih muda. Mengingatkan tanpa menjatuhkan apalagi merendahkan.

Selanjutnya, terhadap alam sekitar, kita diingatkan untuk memberikan hak bagi lingkungan. Pepohonan, hewan-hewan memerlukan makanan dan minuman agar tumbuh dan berkembang. Tidak membakar hutan.

Sungguh sebuah adab akan lebih baik dari ilmu. Dan adab yang dibekali ilmu akan membuat peradaban bumi ini menjadi lebih berkembang dan maju. Dan kita hanyalah diperintah menjadi Rahmatan lil’alamiin.

Marilah kita sama-sama mengintrospeksi diri. Perbaiki lisan dan perbuatan. Cara termudah yang saya lakukan saat berkata atau berbuat sesuatu adalah dengan bertanya pada diri sendiri, “bersediakan saya bila diperlakukan seperti yang saya lakukan pada orang lain? “. Dan biarkan hati nurani terdalam menjawabnya, dan ijinkan hati yang bening menjalankannya. Sungguh ini kerja berat. Menyadari kita melakukan kesalahan dan ingin berubah menjadi baik merupakan langkah awal menjalankan adab. Mari kita mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil.

Selamat berjuang, bunda! Bismillah, semoga menjadi amal jariyah bagi kita. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *