Menempa Diri Menjadi Agility Person

Setelah libur selama sepekan, Hexagon City kembali menggeliat. Pekan ini kami menempa diri menjadi Agility Person. Penuh dengan keseruan dan menantang adrenalin selama menjalankannya. Agility Person belakangan sering digaungkan. Apalagi di masa pandemi saat ini, ketika segala aspek kehidupan kita dipaksa berubah, mencari keseimbangan baru. Sejauh manakah kita menjadi agile?

Apa itu Agility Person?

Agility dalam bahasa Indonesia diartikan juga sebagai gesit. Agility Person adalah seorang yang gesit. Dalam kondisi saat ini, dimana pandemi masih melanda, perubahan terjadi pada setiap aspek kehidupan kita. Mau tak mau kita harus menyeimbangkan diri, beradaptasi dan bergerak lebih cepat mengatasi perubahan ini. Agility ini tidak sekedar dalam gerakan, ketangkasan fisik, tapi juga kegesitan dalam menjawab tantangan, mengantisipasi perubahan, dan tentu saja dalam mengambil keputusan.

Awal tahun 2021 ini saya ditantang untuk mampu bergerak dengan gesit dalam merespon keadaan di sekeliling. Berbagai peran yang saya ambil, menuntut tanggung jawab pada saat yang bersamaan. Peran utama sebagai ibu sangat diharapkan oleh nak bontot yang baru saja dikhitan. Pada saat yang sama, proses herregistrasi sedang berlangsung, dan saya masih mendampingi Manajer OPerasional Sekreg dalam rangka alih perannya. Sementara, kegiatan di Co Housing begitu menantang untuk bergerak lebih cepat mengingat masa kami di Bunda Produktif sudah diujung masa.

Saya bersyukur dengan kebiasaan membuat jurnal dan mencatat membuat saya tetap waras dantak merasa overwhelming dengan semuanya. Pelan-pelan memilah prioritas, delegasi, atau lakukan sendiri. Tentu saja, peran sebagai ibu menjadi prioritas utama. Saya takkan bisa menuntaskan tugas lain bila peran Ibu tak terselesaikan. Di Hexagon city, saya telah menyiapkan hal-hal yang penting menjadi tugas saya jauh hari. Hal ini memudahkan saya mencapai target saat ini. Alhamdulillah.

Saat kembali memasuki ruang Co Housing, kembali terasa pergerakan di antara teman-teman. Kami menyepakati untuk terus bergerak dan menetapkan prioritas mengerjakan tugas masing-masing agar tidak saling bergantung. Hanya saja memang belum sepenuhnya terlaksana seperti yang diharapkan. Beberapa saat kami masih harus berhenti menanti mereka yang berjalan agak melambat. Tak apa, tetap saling mendukung, memberikan semangat dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Lalu bagaimana dengan keadaan Cluster kami? Lingkungan yang lebih luas dan beragam. Ah, sayangnya kami tak banyak bisa bersapa dengan mereka. Hanya mendengar kabarnya melalui cerita leader kami. Tak apa, tak mengurangi doa dan semangat yang kami sertakan untuk tetap bergandengan. Kami akan tetap dan selalu mendukung, saling melengkapi dengan mengisi peran-peran yang dibutuhkan. Salam rindu, tetangga! Suatu saat kita kan bertemu, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *