Ibu Pembaharu Ibu Profesional Jurnal

Materi #1 Mulai Dengan Identifikasi Masalah, Yuk!

Siapa manusia di muka bumi ini yang tidak memiliki masalah? Sudah dipastikan, jawabannya TIDAK ADA. Selama hayat dikandung badan, pastinya akan selalu dihinggapi masalah. Iya kan? Kan? Masalah bisa memberikan pengaruh positif dan negatif. Tergantung pada respon kita dalam menyikapi masalah tersebut. Kuliah perdana mengangkat tentang identifikasi masalah. Wew, searasa masuk dunia perkuliahan semester akhir, ya! Yes, memang kita sedang ada di perkuliahan tahap terakhir. Menyambung pembahasan yang Ibu Septi Peni Wulandani jelaskan di live kuliah perdana yang lalu, saya pun tergelitik untuk mengetahui lebih jauh tentang identifikasi masalah ini.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“

Qs. Al insyirah : 5-6

Baiklah, sebagai awalan kita cari tahu apa kata para ahli tentang identifikasi masalah. berikut beberapa kutipannya yang saya temui di dunia maya. Menurut Suriasumantri identifikasi masalah adalah tahap permulaan dari penguasaan masalah dimana obyeknya berada dalam suatu jalinan tertentu dan bisa kenali sebagai suatu masalah.

Menurut Amien Silalahi, identifikasi masalah adalah usaha untuk membuat daftar sebanyak-banyaknya pertanyaan terhadap masalah yang kita temui.

Nah, nah…udah lihat pengertiannya jadi bingung apa jadi semangat? Apa masalah sehari-hari seorang Ibu bisa diidentifikasi? Tentu bisa. Karena kita adalah Ibu pembaharu. Kami tak ingin masalah berujung pada kekesalan atau kegalauan semata. Bagi kami, masalah adalah tantangan yang harus dihadapi. Belajar berteman dengan masalah. Dari masalah yang dihadapi, akhirnya bisa diurai saat teridentifikasi dengan baik, dianalisa, dan dicarikan solusinya.

Cara Mengidentifikasi Masalah

  1. Mengumpulkan, menemukan masalah yang ada
  2. Mengidentifkasi sumber permasalahan (rootcause)
  3. Menciptakan problem statement yang menjelaskan permasalahan yang sudah teridentikasi

Lalu, dimanakah kita mendapatkan sumber bahan identifikasi masalah? Ada banyak cara dan media yang bisa kita gunakan. Diantaranya dengan mengikuti seminar atau diskusi untuk memperkaya wawasan pengetahuan, membaca berbagai literatur atau buku acuan, selanjutnya wawancara atau kuisioner. Tak hanya itu, sumber identifikasi pun dapat kita lakukan dengan melakukan observasi dan introspeksi diri. Biasanya hal ini akan lebih mengena, terutama berkaitan dengan masalah pada diri sendiri. Selama didukung dengan data yang akurat, ini dapat mendukung identifikasi masalah dengan akurat.

Baiklah… sekarang kita coba lakukan identifikasi, yuk!

This Is My Problem Identification

Semenjak pandemi melanda di bulan Maret tahun 2020, anak-anak harus belajar dari rumah. Sudah 1 tahun lebih kami melaluinya. Banyak suka dan duka mengiringi perjalanan belajar daring ini. Dan di akhir tahun 2020 yang lalu, saya melakukan evaluasi untuk kegiatan daring ini. Saya berupaya obyektif menelaah secara proporsional dengan empati pada situasi pandemi yang masih berlangsung. Tak bisa dipungkiri, kegiatan belajar daring memberikan dampak positif dan negatif.

Dampak positif yang saya rasakan diantaranya adalah rasa tenang karena bersama anak-anak di rumah, bisa melihat perkembangan anak-anak, mendampingi mereka secara penuh dan saya bisa memfasilitasi mereka belajar banyak hal yang mungkin tidak diperoleh di bangku sekolah. Seperti, Mayla belajar membuat pudot dan menjualnya di warung nenek. Dan saya juga baru mengetahui bila Najmi lebih ahli menggoreng krupuk dibanding saya sendiri. Awesome!

Yup, dampak positif tampak nyata pada kemampuan life skill anak-anak yang semakin terasah. Alhamdulillah, ini adalah bagian yang patut saya syukuri. Hal lainnya adalah bonding kakak beradik yang semakin erat. Empat orang anak dalam 1 rumah, 24 jam 7 hari. Semakin kenal, semakin banyak tawa juga tangis. Hahaha… Begitulah warna rumah kami. Masyaa Alloh.

Bagaikan sisi mata uang, ada juga dampak negatif yang kami eh tepatnya saya rasakan semenjak pandemi ini. Anak-anak jadi lebih intens dalam penggunaan gawai maupun komputer. Awalnya sekedar pengerjaan tugas-tugas sekolah tapi lama-lama berkembang main game, oprek aplikasi ini itu, nonton youtube dan dan dan…lainnya. Saya pun mulai jengah dengan perilaku mereka. Dan melihat kesia-siaan dalam menghabiskan waktu luang. Sedangkan mereka sedang berada dalam masa terbaiknya, masa pre Aqil Baligh. Belum lagi dalam hal relasi sosial. Masa yang sebaiknya mengembangkan kemampuan sosial dengan teman sebaya, lebih banyak dihabiskan dalam pertemanan di dunia maya yang tentu saja berbeda dengan pertemanan di dunia nyata.

Kegelisahan semakin menjadi ketika saya merujuk anak-anak untuk bermain mengajak teman-temannya bermain bersama, ternyata teman-teman sekitar rumah lebih senang bermain gawai atau sejenisnya di rumah masing-masing. Pernah suatu ketika Nak Lanang ijin pergi berjalan keliling kompleks bersama temannya, belum sampai 10 menit sudah pulang ke rumah. Setelah saya tanyakan alasannya, dia kembali ke rumah karena ternyata temannya malah mengajaknya ke warnet. Alhamdulillah, saya bersyukur Nak Lanang berani menolak ajakan temannya. Tapi saya semakin gelisah, karena ternyata temannya biasa ke warnet dengan berbagai alasan karena dilarang menggunakan gawai dan PC oleh orangtuanya.

Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan, akibat dari kecanduan internet harus diantisipasi dan dihentikan secepatnya.

Tanpa disadari penggunaan gawai mempengaruhi kondisi emosionalitas anak-anak. Mereka mudah tersinggung, lambat dalam pengambilan keputusan dan lebih individualis. Ahh… belum lagi ancaman bermental flighter. Terlalu banyak dampak negatif dari penggunaan teknologi yang tidak bijaksana, terutama pada anak-anak pre Aqil Baligh. Kondisi inilah yang melatar belakangi saya dalam mengangkat masalah ini sebagai masalah yang akan saya angkat selama di kelas Ibu Pembaharu.

Kamu punya masalah yang sama dengan saya? Yuk, berkolaborasi! Bersama-sama menemukan solusi untuk anak yang kita sayangi

Analisa masalah secara mendalam tentang masalah kecanduan internet ini saya jabarkan dalam internet addiction pada remaja. Silakan dibaca dan dikomentari ya!

Terima kasih telah berkunjung ke laman ini, simak jurnal berikutnya ya.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *